Sosok Welly Tita, dan Harapan Pemimpin di Ujung Utara Perbatasan NKRI

oleh -1.007 views

 

Penulis : Albert P Nalang

MANADO-Ada pendapat yang mengatakan, hidup itu sebuah lelucon yang patut ditertawai. Dan mentertawai diri sendiri adalah awal dari cara kita menafsir kembali visi dan hakekat diri,” Begitulah ungkapan yang ditujukan kepada Welly Titah panggilan akrab Ko Poka bagi warga Masyarakat dibumi Porodisa Kabupaten Kepulauan Talaud.

Mungkin tulisan diatas saya ambil dari ungkapan kata-kata dari guru seniman dan sastrawan asal Talaud Abang Iverdixon Tinungki.

Karena dari tulisan ini lebih cocok dialamatkan kepada Ko Poka, mengapa..? Karena sosok seorang Pengusaha BBM Kapal Lintas Sulawesi ini mampu melakukan Gebrakan untuk mendukung perputaran ekonomi di Lintas Sulawesi.

Andaikata wajah Indonesia Timur di Ujung Utara Perbatasan NKRI memiliki Pemimpin yang punya Management Pembangunan Ekonomi Nasional seperti yang dimiliki oleh Ko Poka sapaan akrab nama lengkap Ko Poka.

Karena tak jarang menjadi orang baik itu gampang, tapi menjadi orang jujur, sederhana dan berkomitmen itu sulit.

Jika di Militer mempunyai 3 Matra Laut, Udara, dan Darat, maka. Maka Welly Titah hadir untuk Talaud di 2024 dengan 3 Matra Karakter bagi Talaud yang lebih baik dari sekarang.

Karena inti dari Welly Titah, bukanlah ketaatan yang kaku terhadap masa lalu, tetapi perhatian yang bijaksana dan menyelidik untuk masa depan.

Dari akhir tulisan ini saya tidak menghakimi para penguasa atau orang yang kuat, namun ketika teori relasi kekuasaan dengan korupsi, dipahami bahwa kekuasaan punya kecenderungan diselewengkan oleh penguasa.

Karena kekuasaan bisa dijadikan kemampuan untuk memproduksi pengaruh dan kekayaan. Ini sebabnya, kita diperhadapkan dengan fakta faktual yang mempertontonkan bagaimana kekuasaan politik bekerja dalam ranah penumpukan harta kekayaan.

Pemerintah yang berkuasa memanipulasi proses demokrasi dan hukum untuk kepentingan politik dan ekonominya.

Gelagat pemerintah yang korup biasanya menggunakan segala akses politik illegal untuk mencapai tujuan politiknya. Dalam bentuknya yang paling anarkhis bentuk kekuasaan semacam ini menguatkan persepsi kita bahwa kekuasaan mempunyai korelasi dengan korupsi.

Dimaksudkan dengan orang kuat lokal menurut Joel Migdal, adalah individu yang berhasil menempatkan diri mereka, rekan, dan keluarganya dalam posisi strategis untuk memastikan bahwa alokasi sumber daya sosial dan kepentingan ekonomi serta kontrol sosial berada di tangan mereka.

Dengan kehebatan yang dimilikinya sebagai orang kuat lokal, akan menyeret pemerintah lokal ke jurang korupsi dan kriminal lainnya yang tentunya melenceng jauh dari prinsip utama desentralisasi dan otonomi daerah yang harusnya dia perjuangkan.

Barbara Geddes, dengan rational theory menyebutkan, ketika seorang terpilih di puncak kekuasaan eksekutif, ada tiga hal yang akan ia lakukan, pertama, memastikan bahwa ia akan bertahan setidaknya dalam periode kepemimpinannya,

Kedua, menciptakan mesin politik yang loyal yang akan mendukungnya, ketiga, menciptakan pemerintah yang efektif. Itulah mengapa pada dasarnya praktek desentralisasi menumbuhkan dilematis pada sisi politisinya.

“Penulis adalah Wartawan Politik dan Aktivis Sosial”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.