Felly Runtuwene Memperjuangkan Prinsip Dan Menabur Benih di Lahan Tandus

oleh -288 views
Calvin Castro

Oleh : Calvin Castro

KETIKA berbicara Felly Estelita Runtuwene (FER) saya pun seorang aktivis Sulawesi Utara harus membuat analisis dimana sebelum kita berbicara siapakah Ibu Felly, maka peradaban suatu sejarah dalam rekam jejaknya harus diakui oleh Masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) serta  Kabupaten Minahasa Tenggara (Mintra) dan Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) pada umumnya. Mengapa karena Perempuan kelahiran Rumoong Bawah, 11 Februari 1971 ini sejak 17 April 2019 terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai NasDem mewakili daerah pemilihan Sulawesi Utara.

Namun sebelumnya, Ia adalah Srikandi di Gedung Cengkih DPRD Sulut yang langganan dianugerahi sebagai legislator terkritis. Dimana sejarah pun mencatat pada penghargaan terakhir Desember 2018 sebagai anggota dewan terkritis untuk periode 2014-2019.

Penghargaan itu mengingatkan rakyat Sulut akan pentingnya memilih pemimpin dan wakil rakyat yang konsisten menyalurkan suara mereka.

Perempuan tangguh dari tanah nyiur melambai ini, maka tidak salah jika  3 mantra yaitu Ketegasan, Keberanian dan Konsisten selalu menjadi prinsip dasar Restorasi  yang paling pas untuk menggambarkan siapa sesungguhnya sosok Felly Estelita Runtuwene. Perempuan enerjik ini memang dikenal bak The Iron Lady (wanita besi). Ia gigih memerjuangkan aspirasi dan hak rakyat. Karena itulah, Felly selama dua periode yakni 100-2014 dan 2014-2019 mendapat kepercayaan rakyat duduk di DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari Dapil Minsel-Mitra.

Jadi, singkatnya, hendak saya katakan bahwa loyalitas, fleksibilitas, dan feminitas yang dimiliki Felly Estelita Runtuwene mestinya bisa menjadi jaminan bahwa dia akan melaksanakan tugas kelaknya sebagai wakil rakyat Sulawesi Utara di tingkat nasional dengan baik. Akan tetapi, hal itu juga bersyarat bahwa Felly tidak terjebak pada seni hitam politik seperti yang dituturkan Groucho Marx.

Politik adalah seni mencari masalah, menemukannya di mana saja, mengenalinya secara keliru, dan menyelesaikannya dengan solusi yang salah.

Saya pun tidak menyebut nama untuk menyiangi kembali lahan partai dengan puji-pujian. Saya menyebut nama untuk mengingatkan rakyat, bagian utama dan paling mendasar dari eksistensi sebuah partai politik seperti Partai Nasional Demokrat, bahwa mereka sudah memiliki wakil untuk memperjuangkan kepentingan mereka di tengah kompleksitas kekuasaan.

Felly Estelita Runtuwene adalah salah satu nama dengan tanggungjawab sebesar itu. Datang dari ruang politik yang paling ideologis dengan membawa kecermatan perhitungan politik yang realistis, Ketua Komisi IX DPR-RI ini tidak tak mengerti permainan politik di negeri ini dan bagaimana menyiasati perubahan bagi kepentingan bangsa.

Felly tentunya harus terlebih dulu kembali pada salah satu hukum besi politik yang tak jarang mendatangkan dilema. Hukum besi ini bisa dituliskan dalam satu kalimat sederhana, memperjuangkan prinsip tanpa kekuasaan adalah menabur benih di lahan tandus.

Berhadapan dengan hukum besi politik ini, apa yang menghibur dari keterpilihan politisi perempuan asal Minahasa Selatan ini adalah tiga kelebihan unik yang dimiliki dan telah dibuktikannya. Pertama, loyalitasnya pada partai. Kesetiaan yang tak menghitung untung-rugi pribadi adalah modal utama yang dimiliki Felly untuk bergerak bersama partai dalam memperoleh kekuasaan demi menggerakkan perubahan yang menjadi prinsip ideologis Partai NasDem secara efektif.

Kedua, fleksibilitas gerak politiknya. Kekuasaan dalam kerangka politik modern bukanlah entitas tunggal tapi semacam jaringan yang menyebar dengan begitu dinamis. Felly, dalam jaringan ini, harus mampu mengikuti dinamika kekuasaan itu. Faktanya, Felly selama ini terbukti mampu bergerak dinamis dalam jaringan kekuasaan sedemikian, terutama di Sulawesi Utara.

Ketiga, feminitas kepemimpinannya. Menjadi politisi perempuan di Sulawesi Utara bukanlah sesuatu yang terlalu istimewa. Masyarakat di daerah ini relatif tidak lagi terkungkung dalam ketololan sejarah patriarkis. Tapi mempergunakan berkah keperempuanan belum menjadi sesuatu yang cukup dimanfaatkan oleh para politisi perempuan itu. Felly, dalam banyak hal, terbukti mampu memimpin tanpa kehilangan karakternya sebagai perempuan.

Penulis adalah Aktivis dan Pengamat Politik Sulawesi Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *