Terkait Polemik PAW di DPRD Minut, Ini Tanggapan Pengamat Hukum Alfian Ratu

oleh -537 views
lfian Ratu.SH.MH

MINUT – Molornya Pergantian Antar Waktu (PAW) Partai Nasdem yang terjadi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa Utara (Minut) menuai polemik dan terus menjadi perbincangan hangat baik para elit politik,masyarakat maupun para praktisi hukum.

Pasalnya, kursi Partai NasDem di DPRD Minut setelah ditinggalkan Shintia Rumumpe sejak tahun 2020 lalu masih juga belum terisi. Padahal sudah turun SK dari DPP  yang menyatakan bahwa Efendy Moha selaku suara terbanyak berikutnya akan menggantikan putri Vonny Panambunan tersebut.

Menangapi hal tersebut, pemerhati hukum Sulawesi Utara, Alfian Ratu, SH, MH, mengatakan, PAW lumrah terjadi guna mengisi kekosongan kursi akibat ditinggal penunggu sebelumnya. Baik karena meninggal dunia, mengundurkan diri, atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota DPR.

Terkait Proses PAW di DPRD Minut, Simak Penjelasan Ketua Fraksi NasDem  

Dikatakannya, dalam proses PAW, partai akan menyurat di dewan yang menyatakan terjadinya kekosongan kursi. Kemudian dibalas DPR dengan menanyakan siapa penggantinya. Partai akan memasukkan nama peraih suara terbanyak selanjutnya, dan dewan akan memprosesnya.

“Semua pasti akan berjalan sesuai mekanisme dan tatib (tata tertib) dewan hingga terjadinya paripurna”terang Ratu, Senin (14/06/2021).

Menyoal polemik yang terjadi pada PAW Sintia Gelly Rumumpe (SGR) di DPRD Minut, dirinya menyatakan secara aturan, peraih suara terbanyak berikutnya memperoleh hak menduduki kursi dewan.

Dijelaskan Alfian, PAW di DPR ini sendiri diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3). Pasal 242 ayat 1 menyebut Calon Anggota DPR yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dari partai yang sama dan Dapil yang sama.

Dalam pasal tersebut berbunyi, Anggota DPR yang berhenti antarwaktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 239 ayat (1) dan Pasal 240 ayat (1) digantikan oleh calon anggota DPR yang memperoleh suara terbanyak urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama.

Ditandatangani Oleh Ketum dan Sekjen DPP NasDem, Efendy Moha Sah Pegang Mandat PAW

“Jadi dalam hal ini, dimana peraih suara terbanyak selanjutnya yakni Efendy Moha, maka dia yang berhak mengisi kursi kosong tersebut. Apabila PAW tidak dilakukan akan ada pelanggaran hak yang telah diberikan oleh undang-undang. Ada pelanggaran konstitusi disitu ketika PAW tidak dilaksanakan”tegas Ratu.

Lanjutnya, jikalau sampai terjadi pelanggaran hak konstitusi terhadap calon anggota legislatif, maka ini tidak baik dalam berdemokrasi. Pak Efendy Moha bisa melakukan langkah-langkah hukum yang dianggap perlu, dalam dia mempertahankan haknya.

“Karena itu adalah hak yang diberikan undang-undang. Dia bisa melakukan gugatan ke mahkamah partai, sesuai UU Partai Politik pasal 31 yang mengatur tentang mahkamah partai,” terang Ratu.

Diketahui, kekosongan kursi sendiri terjadi saat Sintia Gelly Rumumpe mundur karena mencalonkan diri sebagai calon Bupati berpasangan dengan Netty Agnes Pantouw medio semptember 2020 lalu. Terhitung sejak kekosongan tersebut, partai Nasdem Minut pun harus merelakan kehilangan satu suara dalam pengambilan keputusan strategis di Rapat Dewan Minahasa Utara tersebut. (Albert)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *