Budaya dan Tradisi Komunitas Bahari di Kepulauan Nusa Utara (SAKAENG)

oleh -344 views
Foto : Istimewah

Oleh : Jupiter Makasangkil

KOMUNITAS Bahari Nusa Utara di gugusan Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud sangat kaya dengan budaya dan tradisi bahari. Belum semua terpublikasi dengan apik dan baik. Salah satunya adalah penyebutan untuk “perahu sebagai sarana transportasi tradisional”. Perahu dalam bahasa Nusa Utara disebut Sakaeng, bahasa Melayu Manado “prauw atau juga parao”.

Umumnya Sakaeng dipahami sebagai alat penyeberangan diatas air pulang pergi dari satu tempat (kampung atau pulau) ke tempat (kampung atau pulau) lain. Dan utamanya bagi penduduk dengan mata pencaharian ganda yaitu sebagai nelayan dan juga petani,  atau nelayan dan profesi lainnya.

Terkadang siang sebagai pekerja kantoran, malam hari melaut sebagai nelayan.

Ada banyak sebutan untuk Sakaeng menurut jenis kegunaan, ukuran dan bentuknya.

Meskipun ada sebanyak 18 jenis dan sebutan nama Sakaeng,  namun dalam bahasa Sasahara dikenal penggunaan 4 sebutan, yaltu: 1. Malimbatangeng. 2. Bangka.  3. Pato,  4. Dalukang. Mungkin timbul pertanyaan,  mengapa ada perbedaan sebutan Sakaeng dalam bahasa Sasahara? Sebutan Malimbatangeng digunakan sebagai sasahara untuk pemaknaan perahu dlm arti lembaga atau kepemerintahan yg sedang berkuasa (pemangku otoritas dan kewenangan).

Bangka digunakan sebaga sasahara untuk peti jenasah. Pato digunakan sebagai sasahara untuk lembaga atau organisasi persekutuan yg terbentuk untuk tujuan kebaikan dan kesejahteraan bersama (misalnya : rumahtangga,  persekutuan jemaat,  rukun sosial,  dll), demikian juga Dalukang sebagai sasahara penggunaannya utk kiasan suatu tempat usaha (pembukaan warung,  tokoh,  dll).

Menurut peneliti bhs Sangihe Nicolao Adrian dalam disertasi doktornya tahun 1863 De Sangireesch Spraakkunst,

Kata Sakaeng adalah berasal dari kata Saka artinya naik ke atas,  dan mendapat sufix eng,  menjadi sakaeng diartikan sebagai “alat yang dinaiki manusia di atas air untuk menyeberangkan orang dan barang, atau utk menangkap ikan”.

Penggunaan sakaeng,  disebut mésakaeng. Sebutan jenis sakaeng menurut tradisi bahari Tau Sangihe yakni : dorehe, sope, konteng,  giopé, pamo, bolotu, senta, sikuti, lambute,  dampala, pelang,  tumbilung, londe,  bininta, balasoa, tonda,  niune, pangku.

Ada dua sebutan nama perahu yang populer dalam sejarah kerajaan di Sangihe Talaud, yaitu perahu korakora dan perahu binnta. Korakora adalah perahu “dorehe”. Ada dua jenis korakora,  yaitu dorehe besar dgn balairung, menggunakan layar, bercadik, dengan kl 60 s/d 90 pendayung mampu memuat raja dan pembesar kerajaan dan juga 120 orang pasukan perang , dorehe kecil dengan 40 sd 60 pendayung memuat beberapa kapita kerajaan dan 80 orang pasukan perang.

Bininta, perahu ramping memiliki cadik dan tempat alatperang (tombak, parang dll) di atas cadik. Bentuk haluan dan buritan sama,  kegunaan dan fungsinya sebagai perahu pasukan perang dengan awak perahu 18 sd 20 orang pasukan laut terpilih dan berilmu kanuragan tinggi. Haluan dan buritan yang sama gunanya memudahkan arah maju perahu hanya dgn merobah arah duduk awak bininta tanpa perlu memutar haluan perahu. Selalu siaga dan siap hadapi serangan lawan.

Sejak era Border Crossing Agremment (BCA) menit pengamatan, ada tiga bentuk dan ukuran Sakaeng dengan nama berbeda yg menyatu dengan realita kebaharian Tau Sangihe,  sebagai dampak lintas batas penduduk dan perdagangan dari dan ke Philipina Selatan, yaitu: Perahu Fuso (nama yang diambil dari modifikasi mesin truk Fuso menjadi mesin perahu), perahu Pambut atau pumpboat (mendominasi pergeseran alat transportasi antar pulau dan penggunaannya oleh nelayan), perahu pakura sejenis perahu pengangkut orang dan barang dari darat ke perahu Fuso atau Pambut besar.

Mesinnya menggunakan mesin alkon. Tulisan ini mungkin belum memadai atau ada kekurangannya. Semoga bermanfaat dan mohon koreksi. Salam sehat. Jumat (21/05/2021

Penulis adalah Budayawan Nusa Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *