Menjaga Indonesia Sebagai Ciptaan Tuhan Yang Maha-Tidak-Beragama

oleh -502 views
Sovian Lawendatu

Oleh : Sovian Lawendatu

(Renungan Sejarah Agama dan Sejarah Kebangsaan dalam rangka Merawat Pancasila).

Agama Kristen/Katolik, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, di Indonesia, dari manakah mereka? Itu semua adalah ‘impor’.

Jauh sebelum agama-agama ‘impor’ itu masuk di Indonesia, penduduk Indonesia sudah memiliki agama / kepercayaan dalam pengertian Ilmu Agama, yaitu Dinamisme / Pra-animisme dan Animisme.

Sementara itu, fakta sejarah kebangsaan membuktikan bahwa bangsa Indonesia  hidup rukun dan damai di dalam perbedaan agama-agama ‘impor’ itu. Dalam sejarah kebangsaan Indonesia, sama sekali tidak ada ada konflik antar-agama, kecuali bahwa agama-agama itu dibawa-bawa ke ranah konflik politik, sebagai instrumen politik. Atas dasar itulah maka Pancasila, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, diterima sebagai Dasar Ideologi Negara oleh Bapak-bapak Pendiri Negara-Bangsa Indonesia (The Founding Father’s).

Akhir-akhir ini, usaha untuk merongrong dan menggantikan dasar negara Pancasila semakin gencar dan galak. Seolah-olah Tanah Air Indonesia adalah milik pusaka umat beragama tertentu. Pada saat dunia global merayakan pluralisme, di negeri kita justru kian marak perayaan singularisme, yang bahkan berbasiskan radikalisme dan fundamentalisme. Sungguh memilukan.

Menjadi manusia Indonesia sejati berarti menjadi umat manusia, menjadi semesta-manusia, karena manusia pada kodratnya adalah plural, majemuk, berbeda. Maka, menjadi manusia Indonesia sejati berarti harus menjadi manusia yang sadar sejarah agama di Indonesia, sadar sejarah kebangsaan Indonesia yang sarat nilai-nilai Pancasila. Kesadaran yang melampaui segala tendensi kekuasaan yang serakah, yang menjadikan Tuhan Yang Maha-Tidak-Beragama itu sebagai hanya hak-milik agama tertentu, sehingga Ia seolah-olah begitu bengis dan haus darah.

Oleh sebab itu, klaim “pembenaran teologis” agama secara sepihak, mengkafirkan umat beragama tertentu, merupakan sikap egoisme-kelompok yang patut dilawan, karena sikap demikian merusak tatanan kebersamaan keindonesiaan yang majemuk, merusak tatanan keberadaban umat manusia, membantai eksistensi semesta-manusia, yang adalah ciptaan TUHAN Yang Maha-Tidak-Beragama.

Penulis adalah Dramawan, Budayawan, dan Kritikus Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *