Pehe, Perkampungan di Barat Siau, Hingga Tradisi Bercerita Masyarakat Sangihe (Mebio)

oleh -508 views
Mebio : Pehe
Foto Ist : Perahu-Perahu Yang Berjejeran di Pelabuhan Pehe

Oleh : Jolly Horonis

DAHULU, jauh sebelum Kekristenan masuk di tanah Siau, penduduk di wilayah ini erat dengan kepercayaan lokal ‘sundeng’. Kepercayaan ini erat dengan kekuatan alam dan mistik. Hampir semua aktivitas masyarakat di wilayah ini selalu dihubungkan dengan alam; baik bertani, melaut, upacara adat, bahkan taktik dan strategi berperang atau bertahan dari perompak selalu berpatokan pada kekuatan alam – mistik. Uro, pukuite, hopa, talikise, papehe, dsb adalah sebagian dari ilmu-ilmu leluhur negeri ini yang masih bisa didapatkan pada cerita-cerita orang tua. Ilmu-ilmu tersebut memiliki kekuatan saat digunakan untuk keperluan masyarakat Siau dahulu.

Siau, negeri yang sarat mitolagi dan legenda selalu menyimpan kisah menarik untuk diceritakan kembali. Setiap tempat permukiman di Siau memiliki kisah masing-masing, baik kisah pemberani setempat juga kisah di balik penamaan permukiman. Demikian juga kampung PEHE.

Pehe, sebuah perkampungan di barat Siau sudah disebut-sebut dalam catatan sejarah Siau baik legenda maupun mitos.

Dalam mitologi dan legenda Siau, Pehe menjadi isu sentral awal mula sejarah Siau diungkap. Di Pehe zaman dahulu bermukim satu kelompok balageng (keluarga), yakni balageng Sense Madunde. Sense Madunde sebagai pemimpin kulano (clan) di wilayah ini kisahnya penuh versi. Ada yang menceritakan ia berasal dari getah pohon (sense) lalu ia menikah dengan bidadari. Ada juga sejarah yang mencatat ia adalah anak dari manganguwi dan bikibiki. Mereka adalah keturunan dari bituing karamate dan timudai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *