Cuci Tangan Antara Virus Corona dan Pilatus

oleh -35 views
Denny Sangkaen

Oleh : Denny Sangkaen

DALAM bahasan, Cuci tangan saat ini menjadi sangat penting dibanding waktu-waktu sebelumnya, cuci tangan sudah menjadi keharusan yang menjadi bagian dalam aktivitas sehari-hari ditengah pandemi Covid-19 ini, tidak ada yang tidak mengikuti protokol kesehatan. Ini dengan tujuan membersihkan tangan agar terhindar dari paparan Virus Covid-19.

Dalam standar WHO tentang memutus rantai penyebaran Covid-19, cuci tangan untuk mengamankan diri dan juga tidak akan memjadi pembawa virus tersebut, dan memanglah demikian.. Kita semua memcuci tangan agar aman… Konteks cuci tangan bukan hanya diartikan dalam arti harafiah, tetapi cuci tangan juga mengandung arti yang lain,,, Pada jaman pra Yesus, orang yahudi harus mencuci tangan sebelum berdoa, agar bersih dan suci. Demikian juga untuk makan agar makanan tidak menjadi najis… Namun dijaman Yesus, cuci tangan menjadi lebih populer ketika Pilatus sang wali negeri Yudea.

Mungkin ini semangat konstruksi yang hendak ditawarkan Denny, bukan hendak menyudutkan institusi dan pemimpin resmi tertahbis, dan tentu siapapun bisa menerima dengan damai, tanpa peperangan wacana teologi yang tak berguna, malah mungkin hanya menunjukkan ego pribadi untuk sekedar keluar dari masalah.

Mungkin ungkapan bahasa Albert – – dalam satu status di dunia maya, bahwa banyak orang gemar membuat tautologi atau pengulangan yang tak perlu dengan teodisea sendiri yang justru makin menyudutkan Allah sendiri.

Denny Sangkaen tentu jauh dari maksud hati dan pikiran semacam itu. Justru beliau menyentak kita untuk memakai iman dan rasio sekaligus, untuk mencari dan menegaskan identitas dan habitus baru, dari apa yang sudah ada tertulis dan tersirat dalam Alkitab sendiri.

Dalam dunia teologi bahkan kita menemukan ada banyak pemikiran dan mashab, yang masing-masing punya kecenderungan dan perspektif berbeda. Tetapi, sesungguhnya hanya menunjuk pada totalitas yang satu dan sama tentang kristianitas itu sendiri yang berakar dalam tradisi bangsa Israel dan menjadi locus sejarah keselamatan (agama wahyu atau abrahamic tradition). Allah menyatakan diri untuk pertama kalinya melalui sebuah bangsa dengan identitas dan sejarah kehidupannya.

Konsep Gereja Rumah bukan segalanya, walau menjadi semakin terasa relevansi dan kemendesakannya menghadapi situasi pandemi yang sudah memasuki hampir setahun terakhir ini entah sampai kapan.

Dalam sejarah, kita bisa belajar membaca tanda zaman. Misalnya silih berganti konsep dan praktik menghadapi masalah bahkan yang berpretensi sebagai satu-satunya yang benar dan mendapat legitimasi Ilahi…

Pada akhirnya kita mesti tunduk hanya pada Dia yang telah berfirman dan memberikan kasih karuniaNya yang tak terbatas waktu dan tempat, tak terbatas bidang dan level, tak dibatasi oleh apapun termasuk oleh pandemi dan virus yang tak kasar mata ini. Ada tertulis, Roh Allah berhembus kemana saja Dia mau.

Para ilmuwan dengan tradisi berpikir rasional obyektif sedang berlomba mencari obat dan cara menyembuhkan atau menghindar dari serangan menyakitkan dan mematikan ini.

Semoga para agamawan yang mengaku dan percaya pada Tuhan, tentu saja sudah jelas apa yang mesti dibuat sesuai Firman Tuhan sendiri yang sudah selalu direnungkan dan menggerakkan serta menghasilkan banyak tindakan kesalehan dan cinta kasih. Termasuk dalam menyikapi sikon seperti ini, yang ditunjukkan oleh para ilmuwan kristiani dalam banyak tradisi.

Bahkan banyak ilmuwan yang ateis dan agnostik berbalik kepada teologi (refleksi iman bersumberkan Firman) untuk menjelaskan konsep teoritis dan praktis secara kreatif dalam menghadapi problematikanya di dunia yang satu dan sama ini.

Misalnya filsuf aliran Marxis, Slavoj Zizek, yang membuat refleksi filosofis berdasarkan kata-kata dalam peristiwa paskah, Yesus kepada Maria Magdalena: “Jangan Sentuh Aku!”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *