HUT Ke-596 Kepulauan Sangihe dan Syair Tangisan Uringsangiang

oleh -47 views
Kabupaten Kepulauan Sangihe
Kabupaten Kepulauan Sangihe

Oleh : Iverdixon Tinungki

MINGGU, 31 Januari 2021, Sangihe merayakan HUT ke 596 tahun. Banyak hal menarik yang patut menjadi buah renung tentang kepulauan ini, baik dari sisi sejarah dan juga budaya yang telah menuntun detak jantung peradaban manusia Sangihe sejak ribuan tahun.

Dalam tradisi sastra, “Tatimongan” adalah syair doa pengharapan (penolak bala) orang Nusa Utara. Tatimongan biasanya dinyanyikan saat hati merasa putus asa. Sastra Titimongan yang terindah berasal dari abad XIII karya putri Kulano Wowontehu, Uringsangiang berjudul: “Tatimongan Umbolangi”. Syair itu dituturkannya saat Bininta (perahu) kerajaan yang ditumpanginya hanyut terbawa arus angin selatan. Dalam  Tatimongan itu  ia memohon agar ayah ibunya serta rakyat kerajaan mendoakan keselamatannya.

Uringsangiang, putri dari datuk Mokoduludugh, raja kerajaan Wowontehu. Dikisahkan, ia dan perahunya  hanyut dan terdampar di pulau Sangihe. Dari syair tangisannya itu juga  diperkirakan nama Sangihe di ambil (Sangi=Tangis). Namun yang terpenting dalam kebudayaan tua Nusa Utara, menangis punya tradisinya sendiri. Baik itu tangisan kesakitan, pedih dan putus asa serta tangisan duka, sudah ditata dalam bentuk sastra yang teratur. Jadi siapa pun yang menangis, mengikuti tradisi itu. Tak heran kalau ada duka, orang yang menangis, ratapnya kedengaran  seperti nyanyian. Di masa itu tangisan adalah nyanyian. Barangkali dari akar budaya itulah Brown, seorang penulis Eropa menamakan kepulauan Nusa Utara (Sangihe Talaud) sebagai “Archipelago of Tears” (Kepulauan Air Mata).

Syair Tangisan Uringsangiang

ya aduh kasihan

sekiranya aku burung gerangan

ya aduh kasihan

aku terbang ke pulau hakekat

ya aduh kasihan

aku tak dapat menimbang pikiran

ya aduh kasihan

aku dipangku sang keasingan

 

ya aduh kasihan

aku tinggal di sini

ya kamu

ya aduh kasihan

kamu tak bawa aku bersama

ya kamu

ya aduh kasihan

berharap aku angin pendorong

ya kamu

ya aduh kasihan

jangan tinggal aku sebatang kara

ya kamu

ya aduh kasihan

aku tidak menghendaki rumah

ya kamu

ya aduh kasihan

aku hendak berumah di perahu

ya kamu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *