https://portalsulutnews.com

Akurat & Terkini

Haruskah Pengawas Sekolah Dihapus?

Last Updated on 14 Januari 2021 by Romel

Sofyan Lawendatu

Oleh : Sovian Lawendatu

DESAKAN sejumlah pihak, agar Mendikbud menghapus jabatan pengawas sekolah memicu kontraversi.

Pengawas sekolah merupakan alat kontrol pemerintah terhadap pelaksanaan manajemen dan kurikulum pendidikan di sekolah. Maka pada prinsipnya tugas pengawas sekolah amat strategis.

Alasan bahwa fungsi supervisor sudah melekat pada jabatan kepala sekolah, sehingga jabatan pengawas sekolah harus dihapus, terasa kurang realistik, kalau dilihat dari kompleksitas tugas dan fungsi kepala sekolah berkait dengan proses rekrutmennya. Pasalnya, kepala sekolah bukan hanya supervisor, tapi juga manajer dan administrator.

Sementara itu, proses rekrutmen kepala sekolah sejak era Otda tidak memberi jaminan yang objektif bahwa setiap kepala sekolah dapat melakoni tupoksi-tupoksinya secara total dan efektif. Di titik ini kebutuhan akan pengawas sekolah menjadi urgen.

Terkait dengan pengawasan manajerial sekolah, pengawas sekolah sebagai alat kontrol pemerintah pada prinsipnya dibutuhkan. Pasalnya, akibat kerumitan tugas administratifnya, pemerintah daerah c.q dinas pendidikan tidak bisa secara rutin mengawasi proses manajemen di sekolah.

Argumen bahwa pengawas sekolah hanya melaksanakan pengawasan secara administratif, sehingga dianggap bahwa pengawas sekolah tidak berguna, bisa jadi benar secara nasional. Namun, ini tidak lantas dijadikan dalih untuk menghapus jabatan pengawas sekolah.

Yang realistik kiranya adalah meningkatkan kualitas dan kinerja pengawas sekolah. Sertifikasi pengawas sekolah merupakan upaya pemerintah yang seyogianya dibarengi dengan peningkatan kualitas dan kinerja pengawas sekolah sejauh kualitas dan kinerja itu dipandang masih minus.

Menurut peraturannya, pengawas sekolah memang harus selalu berada di sekolah. Tempat kerja pengawas sekolah yang terutama sebetulnya adalah sekolah, bukan kantor dinas atau cabang dinas dan sebangsanya. Maka kalau ada banyak pengawas sekolah yang jarang berada di sekolah, ini sepatutnya dilakukan pembinaan, bukan malah menghapuskan jabatan sekolah.

Pengawas sekolah idealnya memang mantan guru dan kepala sekolah yang sudah terbukti kompetensi profesional dan kepemimpinannya. Ini sejauh pengawas sekolah difungsikan sebagai pembimbing kepala sekolah dan guru.

Kemdikbud, setahu saya, telah mengeluarkan rambu-rambu untuk peningkatan kualitas pengawas sekolah. Tapi rambu-rambu itu terganjal pada implementasinya di daerah-daerah. Masih ada kecenderungan kolot bahwa pengawas sekolah merupakan tempat buangan mereka yang dinonjobkan dari jabatan kepala sekolah. Jelas, kecenderungan kolot ini juga jadi biang kerok lemahnya kualitas pengawas sekolah secara nasional.

Buat saya, jika pengawas sekolah harus dihapus, maka konsekuensinya akan meluas ke arah perubahan sistem dan birokrasi pendidikan secara fundamental. Misalnya, kalangan birokrat pendidikan mestilah mereka yang profesional di dunia pendidikan, terutama paham supervisi pendidikan. Selain itu beban kerja struktural kedinasan mestilah diperkempis dengan tupoksi fungsional.

Jelas, perubahan sedemikian hanya menggeser tupoksi pengawas sekolah ke pejabat birokrasi pendidikan lainnya. Karenanya, daripada buang-buang energi menghapus jabatan pengawas sekolah, lebih baiklah memberdayakan pengawas sekolah. Caranya dimulai dari rekrutmen pengawas sekolah yang sesuai dengan rambu-rambu yang dipancangkan oleh Pemerintah pusat (Kemendikbud).

#Betapapun jua, menghapus pengawas sekolah tak ubahnya dengan membiarkan dunia pendidikan formal berjalan tanpa kendali#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *